
Usulan Dedi Mulyadi untuk menjadikan Nyi Ratu Kidul sebagai brand Pangandaran bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Dalam konteks budaya Nusantara, Nyi Ratu Kidul bukan hanya sekadar legenda, melainkan juga simbol kekuatan alam, penjaga harmoni, serta manifestasi spiritual yang sudah berakar dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan Sunda.
1. Nyi Ratu Kidul sebagai Simbol Keseimbangan Alam
Dalam kepercayaan tradisional, Nyi Ratu Kidul sering dikaitkan dengan penguasa Laut Selatan yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Penghormatan kepada beliau sering dikaitkan dengan ritual tolak bala atau sesaji sebagai bentuk permohonan restu agar laut tetap memberikan manfaat tanpa membawa bencana.
Secara spiritual, mengangkat Nyi Ratu Kidul sebagai identitas Pangandaran bisa menjadi cara untuk menegaskan hubungan erat antara manusia dengan ekosistem laut. Jika dikemas dengan bijak, branding ini bisa menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari harmoni spiritual.
2. Dimensi Mistis dan Daya Tarik Pariwisata Spiritual
Pangandaran, sebagai destinasi wisata alam, juga bisa mengembangkan wisata spiritual dengan mengaitkan kisah Nyi Ratu Kidul. Banyak masyarakat yang meyakini keberadaannya, baik secara metafisik maupun sebagai simbol historis-budaya.
Sejarah spiritual yang melekat ini bisa dikemas dalam bentuk edukasi budaya, misalnya:
Festival Budaya yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam laut.
Ritual adat yang bersifat simbolik, bukan pemujaan, tetapi sebagai penghormatan terhadap kearifan lokal.
Mitos sebagai daya tarik wisata mistis, seperti wisata sejarah yang menjelaskan hubungan legenda dengan realitas masyarakat pesisir.
Dengan demikian, spiritualitas Nyi Ratu Kidul bukan hanya menjadi kisah mitos, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang bisa memperkaya pariwisata berbasis tradisi dan sejarah.
3. Etika dan Kearifan Lokal dalam Menggunakan Simbol Spiritual
Dalam tradisi Jawa-Sunda, menghormati leluhur dan entitas spiritual adalah bagian dari ajaran etika dan moral. Namun, menjadikan figur seperti Nyi Ratu Kidul sebagai brand harus dilakukan dengan penuh kebijaksanaan.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam perspektif spiritual:
Menghindari Komodifikasi Berlebihan
Menggunakan legenda untuk branding harus tetap mempertahankan nilai kesakralannya. Jika hanya dijadikan sebagai produk komersial tanpa menghargai unsur budaya dan spiritualnya, maka bisa menimbulkan kontroversi di masyarakat.
Menjaga Narasi yang Edukatif dan Tidak Mitos yang Menyesatkan
Pendekatan harus diarahkan pada penguatan budaya, bukan pemujaan berlebihan. Nilai-nilai seperti keseimbangan alam, penghormatan terhadap laut, dan spiritualitas leluhur bisa menjadi pesan utama.
Menghormati Kepercayaan Beragam
Tidak semua orang memiliki pandangan spiritual yang sama. Oleh karena itu, penggunaan simbol Nyi Ratu Kidul harus dikomunikasikan sebagai bagian dari sejarah dan kearifan lokal, bukan sebagai sesuatu yang dogmatis.
Kesimpulan: Branding Berbasis Spiritualitas, Harmoni, dan Kearifan Lokal
Usulan Dedi Mulyadi ini secara spiritual bisa menjadi langkah positif jika dikemas dengan pendekatan yang menghormati nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat. Nyi Ratu Kidul dapat menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam, serta pengingat akan pentingnya menjaga laut dan tradisi lokal.
Namun, perlu kehati-hatian agar penggunaan legenda ini tidak terjebak dalam eksploitasi yang mengurangi nilai spiritualnya. Jika dilakukan dengan benar, branding ini bisa menjadi model pariwisata budaya dan spiritual yang tidak hanya menarik, tetapi juga membawa pesan moral dan kearifan lokal bagi masyarakat luas.
Tentang Penulis
ACEP SUTRISNA adalah Ketua Paguron Jalak Banten Nusantara (PJBN) Kabupaten Tasikmalaya, pemerhati sosial dan budaya, serta aktif dalam upaya pelestarian nilai-nilai tradisional untuk memperkuat peradaban bangsa.(***